Maksud dan Tujuan Qurban
Khutbah Jumat
A
Akhmad Fahrurrozy
7 Mei 2026
3 menit baca
2 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَ...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: "يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ".
*Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah*,
Setiap tahun, ketika rembulan Dzulhijjah mulai mengambang di ufuk, hati umat Islam di seluruh dunia bergetar. Bukan karena senandung alam semata, melainkan karena panggilan suci yang membangkitkan ruh pengorbanan, yang mengingatkan kita pada kisah agung seorang insan pilihan dan keturunannya. Inilah bulan Idul Adha, bulan di mana kita diperintahkan untuk merayakan hari raya Qurban. Namun, apa sebenarnya makna di balik penyembelihan hewan yang menjadi syiar agama ini? Apakah ia sekadar tradisi tahunan, ataukah ada dimensi spiritual yang lebih dalam yang harus kita selami?
Ayat Allah SWT dalam Surah Al-Kautsar mengingatkan kita, "Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah." (QS. Al-Kautsar: 2). Perintah ini bukan hanya sekadar gerakan fisik menyembelih, melainkan sebuah manifestasi keimanan yang utuh. Qurban adalah sebuah ibadah yang berakar pada ketaatan mutlak kepada Sang Pencipta, sebuah bentuk penyerahan diri yang total, sebuah pengakuan bahwa segala sesuatu yang kita miliki, bahkan nyawa kita, adalah titipan Allah SWT.
Marilah kita renungkan firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 34: "Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan hewan kurban, supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah rezeki-kan kepada mereka. Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (hai Muhammad) berita gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)."
*Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah*,
Hakikat qurban yang paling hakiki bukanlah kemewahan jenis hewan yang disembelih, bukan pula keindahan dagingnya yang tersebar. Namun, ia adalah ketulusan niat, kedalaman rasa takut pada siksa-Nya, dan harapan akan rahmat-Nya. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma'idah ayat 27: "Daging unta dan darahnya sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi yang dapat mencapainya ialah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap binatang ternak yang telah menunjukkan-Nya kepadamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik."
Qurban mengajarkan kita untuk melepaskan sesuatu yang kita cintai karena cinta yang lebih besar kepada Allah. Ia adalah latihan untuk memutus rantai keserakahan, melatih jiwa agar tidak terikat pada dunia, dan mengukir pengorbanan dalam kamus kehidupan kita. Kisah Nabi Ibrahim 'alaihissalam bersama putranya, Ismail 'alaihissalam, adalah teladan tertinggi dari pengorbanan yang penuh cinta dan ketaatan. Beliau rela mengorbankan buah hatinya, penyejuk matanya, atas perintah Allah. Inilah puncaknya penghambaan, di mana takhta kesayangan digantikan oleh perintah Ilahi.
Ketika kita menyembelih hewan qurban, sejatinya kita sedang menyembelih ego kita, hawa nafsu kita, dan segala bentuk kesombongan yang mungkin bersemayam dalam hati. Kita sedang melatih diri untuk lebih peka terhadap saudara-saudara kita yang membutuhkan, berbagi kebahagiaan, dan mempererat tali persaudaraan. Qurban adalah wujud nyata dari kepedulian sosial yang diajarkan Islam, sebuah jembatan yang menghubungkan antara yang berkecukupan dengan yang kurang beruntung.
Jangan sampai qurban kita hanya sekadar ritual kosong, tanpa makna spiritual yang mendalam. Jangan sampai kita hanya fokus pada aspek lahiriahnya, sementara batin kita masih dipenuhi oleh cinta dunia dan keengganan untuk berkorban di jalan-Nya. Marilah kita jadikan qurban ini sebagai momentum untuk membersihkan hati, menata kembali niat, dan mengokohkan tekad untuk selalu menjadi hamba yang taat dan patuh.
Baarakallahu li wa lakum fil Qur’anil ‘Azhiim, wa nafa’anii wa iyyakum bimaa fiihi minal aayaati wadh-dhikril hakiim. Aqulu qaulii haadzaa wa astaghfirullaha al-‘adziim li wa lakum wa li saairil muslimiina wal muslimaat fastaghfiruhu innahu huwal ghafuurur rahiim.